Ride Report – Galunggung 28 – 29 Nov 2015


Touring adalah kesempatan bagi saya untuk melepas penat, meditasi, dan juga testing mainan baru. Beberapa mainan yang di test kali ini yaitu sepatu hiking waterproof, tongsis Bluetooth Xiaomi, tunnel bag merk 7 Gear, Balaclava 3CT, neck warmer Respiro, dan Helm INK MF1. Khusus untuk neck warmer Respiro dan Balaclava 3CT saya tes ketangguhannya dalam menghalau udara dingin selama perjalanan malam.

Dalam touring sebelumnya saya mengalami bels palsy (pelemahan otot syaraf wajah karena terpapar angin dingin secara konstan) saat perjalanan pulang Garut – Jakarta Agustus lalu. Pada saat itu saya mengenakan helm half Face TDR dan Neck Warmer Respiro saja. Awalnya neck warmer menutupi hingga bawah mata, namun selama perjalanan turun hingga menutupi daerah mulut saja. Padahal perjalanan pukul 14-00 – 20.30. Bels Palsy diketahui efek nya lebih besar pada malam hari dengan suhu dingin.

Awal rencana keberangkatan pukul 04.00 subuh dengan harapan tiba di Garut pukul 10 – 11 pagi (6 jam perjalanan) agak mundur karena terlambat bangun 😀 . Saya baru terjaga pukul 5.15. Setelah pamitan dengan istri, saya pun menuju parkiran motor. Pada saat mrmasang Tunnel Bag 7 Gear, ternyata Hook X-Ride yang telah dipasang sebelumnya sebagai gantungan serba guna menekan tunnel bag, jadi harus saya lepaskan dulu. Sekalian ngecek baut-baut lainnya, sukses berangkat pukul 6.00. Hampir lupa melakukan reset trip meter karena buru-buru kesiangan.

image

Saya berencana lewat jalur Jonggol. Dari Cengkareng, setelah melewati Permata Hijau GPS memandu saya melewati Blok M, Antasari lalu tembus TB Simatupang. Sedikit tips, jika MaxBro & MaxSist berangkat pagi dengan tujuan yang sama dari Cengkareng lewat Pondok Indah saja. Rempong lewat Blok M, Antasari, Banyak lampu merah dan lama durasi-nya. Memang di peta terlihat lebih pendek namun dalam kenyataan saya rasa makan waktu lebih lama. Setelah TB Simatupang, perjalanan terus lancar hingga memasuki Cibubur.

Saat memasuki Cileungsi, touring kita baru di mulai. Pemandangan menarik saya temukan disini. Ada seorang pengendara motor yang riding bareng hewan peliharaannya, musang. Musang ini asyik memanjat naik-turun badan tuannya. Dari tangan ke leher, ke punggung. Saya memberi tanda jempol saat melewati rider ini dan beliau tersenyum, sepertinya dia memang menikmati perhatian dari orang lain akibat musangnya.

Dalam perjalanan pergi ini Tunnel Bag saya isi dengan banyak botol minuman serta snack, hingga cukup berat. Efeknya adalah tunnel bag duduk dengan mantab di motor dengan hanya memakai 2 titik pengaman yang terkait ke bangku tempat duduk. Hal yang berbeda saya temukan saat perjalan pulang dengan kondisi tunnel bag nyaris kosong. Tas agak bergoyang sehingga saya tambahankan tempelan Velcro yang disediakan pada paket penjualan.

Perjalanan mulai tersendat setelah melewati jembatan Raja Mandala, antrian kendaraan mengular saat melewati tanjakan perbukitan Kapur. Macet makin parah saat memasuki Padalarang, Cimahi dan tepi kota Bandung. Pengalaman menarik saat akan memasuki kota Bandung, saya diberhentikan oleh polisi. Dia meminta surat umum seperti STNK, SIM. Yang menarik adalah polisi ini menghidupkan kunci kontak motor saya lalu memencet klakson. Saya tidak tahu apa motif nya, mungkin dia mau menjaring pengguna klakson sirine.

Perjalanan kembali menyenangkan setelah melewati daerah Cileunyi. Dari sini perjalanan lancar tanpa hambatan. NMAX bisa di geber hingga 105 km/jam. Dengan mudah melewati motor dan mobil lain tanpa banyak kesulitan. Diakui mereka juga tidak sedang buru-buru.
Tiba di hotel pukul 12.30 di daerah Cipanas, Garut.

wp-1449625290155

wp-1449625100993

wp-1449625110402

Setelah beberapa saat istirahat, Om Surya selaku tuan rumah dari NR Garut mengajak untuk jalan-jalan sore ke Kamojang tempat Pembangkit Listrik Geothermal berada. Sebenarnya saya lelah, namun sayang sekali bila sudah menempuh perjalanan sejauh ini, hanya di habiskan untuk tiduran di hotel. Akhirnya pukul 16.00 kita pun berangkat. Kita sempat tukaran motor, di mana motor saya sudah pakai suspensi majesty (setelan paling empuk) dan oli shock depan Yamalube 80 cc, sedangkan om Surya masih standar tingting. Diakui oleh om Surya, motor saya lebih empuk untuk melibas jalanan rusak namun kestabilan saat melewati tikungan tajam saat kecepatan tinggi, terkompromi. Kita tidak se-pede saat menggunakan suspensi standar yang legendaris keras nya itu.

wp-1449625170923

Malam hari di-isi dengan kopdar dengan teman-teman NR Garut lalu makan malam di pasar Ceplak. Thanks to om Agus yang sudah bantuin masang RGC. Beli di Jakarta, pasang di Garut. Itulah akibat kesibukan luar biasa Jakarta. Sempat juga di ajak ke landmark kota Garut yaitu Babancong yang sebelumnya saya kira sejenis makanan. Hehehe… Sesi foto-foto…

View this post on Instagram

the #babancong #nmaxriders #nmaxridersgarut

A post shared by NMAX Riders (@nmaxriders) on

Dalam perjalanan kembali ke hotel sempat berkenalan dengan Komunitas Byson Garut – Biger. Setelah selesai, akhirnya balik ke hotel, tidur. Zzzz……

Minggu pagi merupakan saat yang ditunggu-tunggu karena kita akan menuju ke Gunung Galunggung. Dari Garut hanya saya dan om Surya. Om Agus memutuskan berangkat lebih siang bersama dengan teman-teman dari Biger. Perjalanan antara Garut dan Galunggung penuh dengan kelokan yang sangat menggoda untuk speeding. Saya cukup kesulitan untuk menempel om Surya dengan setup suspensi saat ini. Ada satu moment yang saya ingat, dimana itu adalah belokan ke kanan menurun, kecepatan kita sama. Om Surya masuk belokan terlebih dahulu. Lampu rem dia tidak menyala. Jadi kalau lampu rem dia tidak menyala maka lampu rem saya juga tidak perlu menyala. Itu pikiran saya. Namun ternyata motor saya melebar dan saya harus hardbraking untuk tetap pada racing line. Di rute ini pula saya untuk pertama kalinya merasakan rem ABS depan aktif saat hard breaking menghindari truk yang keluar dari belokan melebar. Posisi jalan berbelok ke kanan dan rata sehabis tanjakan. Karena kontur jalan itu motor kehilangan traksi pada jalan plus ada sisa tumpahan semen yang telah mengeras membuat jalanan menjadi bumpy. Saya rem keras depan dan belakang saat melewati jalanan bumpy, rem terasa loss, sesaat kemudian baru grip terasa kembali dan untuk pertama kalinya ke dua ABS bekerja. Bila tanpa ABS, mungkin saya sudah di dasar jurang. Soalnya jalanan licin sehabis hujan, dan percaya-lah ban yang terkunci sama sekali tidak membantu pengereman dan pada saat mendadak kita tidak akan sempat melakukan teknik pengereman yang baik, otak secara otomatis memerintahkan tangan untuk remas rem sekuatnya.

wp-1449625223051

Setelah melewati Singaparna, kita bertemu dengan NR Tasikmalaya, om Ambar dan om Eddy, lalu lanjut ke Galunggung. Yang membuat Galungung menarik adalah ini merupakan gunung berapi terdekat dengan Jakarta yang memiliki kawah besar sisa ledakan dari gunung api utamanya. Bagaimana dengan Tangkuban Parahu? Tangkuban Parahu itu hanyalah anak gunung dari gunung yang lebih besar, bukan gunung utama. Tembok kawah Galunggung ini memiliki 3 cara pendakian. Jalur Barat dengan 510 anak tangga, jalur Timur dengan 620 anak tangga, serta jalan setapak dari samping Menara. Saya melihat pedagang melewati jalur setapak ini. Sepertinya ini yang paling singkat.

wp-1449624362625

wp-1449624399983

wp-1449624518552

620 tangga di lengkapi dengan 3 perhentian. Jangan khawatir, anda akan berhenti sebelum perhentian tersebut. Kebesaran Tuhan terpampang saat kita berhasil tiba di tembok kawah Galunggung. Barometer pada smartphone saya menunjukkan ketinggian ~1000 mdpl di bibir kawah. Di Google map terlihat puncak Gunung Galunggung ada pada ketinggian 2100 mdpl. Bayangkan, di depan mata di ujung kawah ini, terpampang tembok raksasa dengan ketinggian 1 kilometer secara vertical. Galunggung ini memiliki danau kecil yang menampung air hujan dan mata air sekitar. Di bagian barat terdapat terowongan yang berfungsi membuang air bila ketinggian air bertambah.

wp-1449624548215

wp-1449624634129

Dasar kawah di jadikan areal camping bagi muda-mudi. Di dasar kawah tidak ada sinyal XL, Indosat maupun Telkomsel. Harap ini menjadi perhatian, kita tidak bisa semudah itu minta tolong bila terjadi sesuatu di dasar kawah.

wp-1449624663671

wp-1449624677055

Hal yang menarik, ternyata di tempat yang se-terpencil ini terdapat sebuah masjid yang sangat terawat. Dengan kolam air di depannya yang menampung air yang jernih, dingin dan segar. Kita coba mencapai Curug (air terjun), namun akhirnya batal karena terlalu terpencil. Dari dasar kawah, anda berhadapan dengan tembok setinggi lebih dari 1 kilometer, tempat curug ini mengalir. Bila terjadi longsor, tidak ada yang tahu anda tertimbun longsoran. Ini juga yang membuat kita membatalkan niat menuju ke Curug.

Perjalanan keluar dari kawah ini menjadi perjuangan berikutnya. Kita mendaki tebing di sisi kiri kawah yang terbuat dari longsoran pasir dan bebatuan. Jadi setiap langkah maju, anda akan mundur. Butuh perjuangan ekstra sebab kita tidak memiliki pijakan yang solid. Sedikit tips untuk MaxBro & MaxSist yg hendak turun ke Kawah, lebih baik mengambil jalur turun sebelah kiri kemudian kembali naik dengan jalur sebelah kanan. Sekalipun jalur naik nantinya bebatuan yang curam, agaknya lebih mudah daripada mendaki pasir.

Setelah ngaso di parkiran untuk mengembalikan energy, kita tidak lupa foto2 di pintu masuk Kawasan Wisata Galunggung

wp-1449624891301

wp-1449624903427

Perjalan pulang kita berbarengan dengan rombongan Biger. Selama perjalan ini saya berpikir antara menginap satu malam lagi di Garut atau langsung balik Jakarta, ujung Jakarta – Cengkareng tepatnya. Keuntungan jalan malam adalah bebas macet, dan tidak lekas lelah seperti jalan siang. Ini juga jadi ajang bagi saya untuk ngetest helm full face & balaclava baru. Di awal tulisan saya sebutkan bahwa saya terkena bels palsy saat touring sebelumnya. Itu jalan siang, nah ini jalan malam tentu akan lebih berat tantangannya. Saya diantar oleh Om Surya hingga daerah Leles, titik pisah nya di pom bensin. Jam menunjukkan pukul 08.00. GPS menyebutkan bahwa saya akan tiba di rumah pukul ~3.40 pagi. Waktu yang sangat lama, ini membuat saya tertantang untuk secepatnya tiba di rumah.

Perjalanan pulang melewati puncak, udara dingin membuat kita sulit menikmati perjalanan. Saya sengaja menghindari rute Jonggol karena khawatir begal. Kemampuan NMAX untuk selap selip menjadi memudar saat melewati rute tanjakan di puncak. Saat itu jalanan lenggang sehingga mobil bisa melaju leluasa. Cukup sulit untuk sekedar melewati Nissan Xtrail yang gak lagi ngebut bahkan. Keluhan utama dalam perjalanan pulang ini adalah tulang punggung sekitar pinggang yang sangat pegal. Saya rasa itu karena badan secara konstan menahan dorongan angin. Saya tidak melakukan istirahat selama perjalanan ini, asupan air pun terakhir dilakukan di lampu merah di Bandung. Jadi rasa pegal ini bisa juga disebabkan oleh kurangnya cairan. Helm INK MF1 + balaclava + neck warmer sukses membantu saya menghindari bels palsy walaupun udara dingin di Puncak cukup menggigil. NMAX saya juga dilengkapi dengan knuckle cover, aksesoris ini sangat membantu dalam menahan angin dingin yang menerpa tangan kita saat kita melewati daerah dingin.

Saya tiba dengan selamat di Cengkareng tepat pukul 01.00, itu berarti 5 jam perjalanan dari Leles, Garut. Menempuh jarak sejauh 701 km secara keseluruhan
&nbsp

____________________
Stay in touch with us,
Facebook Group: NMAX Riders
Facebook FanPage: NMAX Riders
Twitter: @nmaxriders
Instagram: @nmaxriders
Email: nmaxriders@outlook.com